Aku menyebutnya lelaki semesta. Ialah kesejukan itu. Di matanya aku melihat telaga tempat segala berada, juga kebenaran. Kedua tangannya selalu terbuka untuk menyambut dan menghibur mereka yang datang membawa duka. Bibirnya selalu tersenyum dan kau akan mendengar nada-nada indah setiap kali ia menyebut kuasa ilahi. Parasnya biasa namun wibawanya terpancar dari keluasaan hati dan pandangannya.
Sejak dulu jubah putihnya senantiasa berkibar ditiup sepoi angin saat ia berjalan mengelilingi desa. Ia memelihara janggutnya yang sekepalan tangan itu dengan rapi. Setiap bersama-sama menghadap allah di surau, aku mendengar suaranya bergetar memimpin jamaah. Saat usai shalat tak pernah mata dan janggutnya tak basah.
Ia orang yang terdepan dalam kebaikan. Seperti menemukan para sahabat Muhammad kembali, ialah orang yang tak pernah membuang waktunya dengan sia-sia. Ia perhitungkan detik demi detik.
Selalu kulihat kebaikan dan cinta melekat padanya bagai kulit yang melekat pada tubuh. Ia tak pernah berhenti memberi setiap saat. Ia berikan apa yang ia punya. Ilmu,harta tenaga pengorbanan untuk semua yang bernama maslahat.
Orang-orang datang kerumahnya mencari ilmu seperti semut mencari makanan, tapi ia tak pernah meminta bayaran. Ia mengumpulkan semua anak yatim dan para pengungsi yang tak berdaya. Memberi mereka makan dan minum,juga pakaian. Dalam putaran waktu yang padat mengisi ceramah agama keseluruh negeri, lelaki itu masih bisa membantu menyebrangkan jalan seorang nenek atau orang buta yang tak dikenalnya. Ia sering bercakap-cakap lama dan mengundang makan beberapa pengemis yang melintas didepannya. Ia biasa menyuap bayi tetangganya dengan raut riang. Membelai, mendoakan setiap kehadiran manusia baru di desa itu dengan wajah bahagia. Ia tak pernah marah maupun memaki, tetapi selalu menawarkan cawan cinta pada siapa pun. Kepada mereka yang dilalaikan hatinya oleh dunia , ia mengajak untuk mempertimbangkan keberadaan Tuhan dalam nadi-nadi mereka. Ia pula yang melindungi para penganut agama lain di desa ini. Ketika ada sebuah gereja yang akan digusur karena tak memiliki ijin bangunan, ia yang meredakan dan memberi pengertian bahwa memang sudah tempatnya gereja ituada disana karena telah turun temurun bangunan itu berada disana. Ia yang paling dulu menolong, bila para penganut agama lain itu mengalami kesulitan.
Lelaki itu hanya bisa makan, setelah ia ketahui semua penduduk di desanya telah makan pada hari itu. Ialah yang paling lusuh pakaiannya di seantero desa, meski ia memiliki sebuah pabrik tekstil di kota, yang tak terlalu jauh dari desa tersebut.
Sudah kusampaikan bukan bahwa laki-laki tersebut pandai beretorika? Tapi seperti yang kukatakan ia hanya bisa berkata yang baik dan benar. Ia tak penah marah, bahkan bila difitnah. Doanya selalu tersedia bagi siapapun, dalam jumlah yang tak bisa kau hitung dengan kalkulator manapun. Dan lelaki itu juga tak bisa mendengar pujian. Bila kau memuji apa yang ia kenakan atau dimilikinya, ia akan berikan barang tersebut padamu secara Cuma-Cuma.
Tapi ada hal lain. Selain memberi, lelaki itu pun meminta dua hal kepada masyarakat desanya setiap hari. Permintaan yang selalu sama agar mereka : “ membuat Tuhan tersenyum†dan “membacaâ€. Mulanya para penduduk desa tak mengerti , bagaimana cara membuat Tuhan tersenyum? Mengapa harus membaca? Apa yang harus mereka baca? Ia pun mengutip surat Al Alaq dalam Quran dan mengatakan “ Bacalah semua yang bisa kau baca, yang terbaca maupun tak terbaca dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.â€
Tak ada orang yang pernah menjelekkan lelaki itu. Sebab tak ada yang tahu bagaimana cara menjelek-jelekkannya. Ia bagai matahari dan bulan bagi desa itu.
Sampai suatu ketika bom besar meledak di sebuah pulau di negerinya. Ratusan orang meninggal dan terluka parah. Ia menonton di televisi dengan air mata bercucuran dan hati jeri, tak habis pikir mengapa ada orang sebiadab itu. Malamnya hingga subuh tiba, ia masih mendoakan keselamatan para korban yang luka.
Tapi entah bagaimana tiba-tiba seorang kepala negara dari negeri adidaya menunjuk lelaki itu sebagai teroris. Lalu tangan-tangan lainjuga menudingnya tanpa satu bukti pun. Tak hanya itu, ia dituduh sebagai dalang dari segala kerusuhan di dalam maupun luar negeri. Ia terperangah, takjub, geli dan tergeragap sesaat karena sekonyong-konyong tokoh-tokoh barat menyebut-nyebut namanya dengan cara yang sama, seperti para pahlawan mengecam para teroris dalam film-film yang mereka buat.
Ia terus bertanya-tanya atas keanehan tersebut. Tapi aparat mulai mencari seribu satu cara untuk menangkap lelaki yang bahkan tak pernah memegang petasan seumur hidupnya itu.
Ah lelaki semesta. Lelaki yang senantiasa terdepan dalam membawa kebajikan , cinta dan kedamaian bagi desanya, bagi semesta ini. Rahmat Tuhan masih turun di negerinya karena tersisa orang-orang seperti dia. Mengapa mereka tak menyadari?
“mengakulah!†seru para interogator. Bukankah kau pernah ke Afganistan, dan Filipina?
“ya, tapi saya datang karena diundang mengajar agama.†Tegas lelaki itu.
“tidak. Kau membawa bahan peledak kesana. Kau bisa merakit bom. Kau adalah guru dari para teroris.â€
“ Ya Allah,apa yang kalian karang? Keyakinan saya mengutuk keras perbuatan keji itu!†Tegasnya.
Tapi tak ada yang peduli. Bahkan secara sangat sistematis lelaki itu dipojokkan oleh analisa para pakar asing di berbagai media, tentang keterlibatannya dengan jaringan yang bahkan namanya pun baru didengarnya saat itu.
Tak berapa lama kemudian, dinegerinya terjadi penangkapan besar-besaran. Sasarannya para ulama berjubah putih dan berjanggut. Entah bagaimana asal muasalnya mereka dituduh sebagai teroris. Mereka kini menjadi sasaran dari sebuah teror baru yang dilakukan atas nama “ pembasmian terhadap gerakan terorismeâ€.
Iblis melintas di hadapanku sambil terbahak-bahak. Beberapa pihak yang merupakan perancang dan pelaku peledakan sebenarnya menyerigai dibalik kabut.
Seringai yang serupa dengan yang lalu-lalu. Tapi aku mencatat wajah mereka. Begitu juga teman-temanku. Mereka sangat licik dan karenanya mungkin lepas dari hukum dunia. Tapi mereka tak akan pernah lepas dari jahim yang penuh gelagak nanak kelak.
Sementara itu, didesanya, para penduduk menangisi lelaki itu. “kami mengenalnya!†teriak mereka. “kami tahu apa yang ia lakukan dalam 24 jam! Lelaki itu hanya punya cinta dan kesetiaan! Apakah itu cukup untuk menahannya? Apakah kalian menahannya karena ia berjanggut, bersorban dan berjubah?â€
Para penduduk desa meminta penguasa untuk membebaskan lelaki semesta dan menahan mereka saja. Kami bisa membaca semua! Mengapa kalian tidak? Kami telah membaca! Kami membaca semua persekongkolan ini! Tahan kami.
Suara-suara itu terus berderai , tapi tak mampu mengeluarkan lelaki semesta dari penjara. Bahkan lelaki itu mulai disiksa. Disundut api rokok , ditampar, ditendang tidak diberi makan dan minum seharian dan dipaksa untuk menandatangani ini itu.
“siapa yang membeli C4 ? Dimana kau kenal Muhammad,Usman, Abubakar, Umar , Ali, Usamah, para teroris itu? Interogator menyebut semua nama sahabat nabi. “ dimana bom berikutnya akan meledak? Bagaimana kau bisa berencana membunuh presiden?†tanya petugas yang lain.
Tapi lelaki itu tak menjawab apa-apa sebab ia tak tahu apapun kecuali kebenaran. Dan ketika ia suarakan kebenaran itu, ia kembali disiksa.
Dengan langkah pasti kudampingi lelaki yang dicintai langit itu kedalam sel dan mendekapnya. Ia tak mengetahui, tapi aku tak pernah bisa beranjak dari dirinya sampai ia mati. Ah, ia tak boleh menangis. Sebab air matanya dan air mata mereka yang dizalimi akan membawa bencana baru bagi negeri ini.
Kupandang lelaki kesejukan ini berkali-kali. Sekujur tubuh dan hatinya luka, tapi mulutnya tak putus berdoa. Lirih sekali kudengar suaranya, “Allah, beri mereka petunjukMu. Cintailah mereka, cintailah mereka ,cintailah mereka. sesungg uhnya mereka hanyalah kaum yang yang tak mengerti….â€***
Cipayung, 18 oktober 2002
BUKAVU “Helvy Tiana Rosaâ€,lingkar pena, depok 2008


U wilt geld lenen zonder BKR toetsing? De opties hiervoor worden groter, kijk verder en ontdek hoe u wél geld kunt lenen, snel & eenvoudig.
Migraine is hoofdpijn die in aanvallen komt. De hoofdpijn komt plotseling op, soms midden in de nacht zodat u er wakker van wordt. De pijn zit meestal aan
Wherever is it, i’d prefer you just read more about this particular post, thanks.